CMC: Computer-Mediated Communication: Gadget Tidak Ada Masalah?

Image source: thejournal.ie

 

Tahun 2017

Berbeda dengan awal era tahun 2000-an, saat ini kita tidak lagi memanggil anggota keluarga yang tidur di lantai dua rumah kita dengan cara menaiki tangga dan kemudian mengetuk kamarnya.

Tidak lagi mengajak rekan satu asrama atau kost untuk makan bersama dengan mampir ke kamar tidur mereka.

Tidak ada lagi terdengar anak-anak kecil yang memanggil nama temannya dari depan pagar rumah ketika hendak bermain bersama maupun dering telepon rumah yang mencari kita.


Tidak ada lagi kiriman surat kita terima dari orang terdekat di luar kota. Bahkan Tidak ada lagi ‘Warung Telepon’ alias ‘Wartel’ kita temui di perumahan.

Telepon umum? Tentu saja sudah lebih dulu punah dibandingkan dengan ‘Wartel’. Hal yang sama juga mulai mengancam keberadaan ‘Warung Internet’ alias ‘Warnet’ yang dulu menjadi tumpuan lain bagi kita yang haus akan informasi selain dari Perpustakaan.

Tidak jarang kerja kelompok pun berganti makna menjadi mengerjakan satu tugas bersama-sama, bukan bekerja sama mengerjakan satu tugas.

Tanpa perlu tatap muka, tanpa perlu duduk di dalam satu ruangan yang sama, kerja kelompok pun bisa terselesaikan dari keberadaan masing-masing anggota kelompok.

Heran? Aneh? Tentu saja, terutama bagi kita yang pernah merasakan hidup seperti apa yang telah diungkapkan sebelumnya. Menapak tilas ke belakang, barulah kita menyadari betapa hebatnya hidup kita berubah hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun.

Generasi Muda

Bagaimana dengan mereka yang berasal dari generasi yang lebih muda? Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. Karena mereka tumbuh pada zaman dimana ‘Internet’ mulai berkembang dengan sangat pesat sambil terus meninggalkan perkembangan teknologi lainnya.

Internet, beberapa orang hanya tahu cara menggunakannya untuk mengakses media sosial dan aplikasi instant messaging tanpa tahu apa arti dari kata ‘internet’. Beberapa orang lainnya lebih handal dibandingkan beberapa orang yang pertama.

Beberapa orang lainnya jauh lebih handal menggunakan ‘internet’ dan tahu persis apa yang sesungguhnya dimaksud dengan ‘internet’.

Mengapa Computer-Mediated Communication?

Thurlow, Lengel, dan Tomic (2004) di dalam bukunya ‘Computer-Mediated Communication (Social Interaction and The Internet)’ pernah mendefinisikan internet sebagai sebuah jaringan global komputer dunia yang mampu memberikan kita kemampuan untuk saling bertukar informasi dengan orang-orang dari belahan dunia lain. Ya, dari belahan dunia lain tanpa perlu khawatir akan izin keimigrasian dan undang-undang hukum yang berlaku terkait dengan hubungan kita dengan negara lain.

Menggunakan sebuah format yang telah disepakati dan dikenal dengan istilah ‘protokol’ (Thurlow, Lengel, dan Tomic, 2004), dengan mengkoneksikan diri dengan internet, kita bisa dengan mudahnya berkunjung ke negara lain, mencari berita tentang negara lain, melakukan transaksi jual beli dengan negara lain, mengakses informasi pendidikan dari negara lain, dan lain sebagainya melalui dunia ‘virtual’ atau dunia maya. Bicara mengenai komputer di sini, Thurlow, Lengel, dan Tomic (2004) tidak membatasinya pada komputer desktop saja, tetapi mencakup seluruh teknologi yang mampu memberikan kita kemudahan di dalam berkomunikasi.

Borderless

Bebas, tanpa batasan, dan borderless. Tidak disangka, internet yang awalnya dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika pada sekitar tahun 1960-an sebagai sarana pertukaran informasi rahasia (Thurlow, Lengel, dan Tomic, 2004), ternyata justru mengundang banyak peminat, bahkan menimbulkan rasa penasaran di kalangan akademisi psikologi dan rasa khawatir di benak banyak orang.

Tidak hanya itu, perlahan-lahan internet pun mulai beralih fungsi dari sekedar sarana pertukaran informasi rahasia, menjadi sarana untuk berinteraksi dengan orang lain. Sekedar berkenalan, bertegur sapa, bahkan melempar komentar, dan lain sebagainya.

Banyaknya peminat dan pengguna internet, ditambah dengan adanya karakteristik yang jelas saja berbeda jauh dengan karakteristik dari bentuk komunikasi yang paling dasar, yakni komunikasi tatap muka, membuat beberapa ahli, termasuk ahli di bidang psikologi, mulai melakukan penelitian terhadap ‘internet’ sebagai salah satu teknologi komunikasi. Hingga akhirnya mereka sepakat dan mengangkat sebuah bentuk komunikasi baru yang disebut dengan ‘Computer-Mediated Communication’ atau Komunikasi Termediasi Komputer dan dikenal dengan singkatan CMC.

John December (1997) mendefinisikan CMC sebagai proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia melalui komputer, melibatkan banyak orang, tersituasi di dalam sebuah konteks, dan terlibat di dalam proses pembentukkan media untuk berbagai keperluan (Thurlow, Lengel, dan Tomic, 2004).

Lebih sederhananya, Susan Herring (1996) mendefinisikan CMC sebagai proses komunikasi antar manusia yang terjadi melalui komputer (Thurlow, Lengel, dan Tomic, 2004). Melalui apa yang telah diungkapkan oleh John December dan Susan Herring tersebut, kita bisa melihat jelas bahwa CMC terjadi melalui perangkat komputer.

Yang artinya bahwa, berbeda jauh dengan komunikasi tatap muka, melalui CMC, manusia bisa saling berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Bagaimana dengan video call? Kita bisa saling ‘melihat muka’. Tentu saja. Tapi ‘melihat muka’ melalui video call tidak semata-mata membuat komunikasi yang terjadi menjadi sebuah komunikasi tatap muka.

Apa yang dimaksud dengan komunikasi tatap muka adalah komunikasi yang terjadi antar manusia tanpa menggunakan teknologi apapun. Sederhananya, kita berada di dalam satu tempat yang sama dan bisa memperhatikan keseluruhan bahasa tubuh yang terjadi pada lawan bicara kita.

Yaitu suatu bentuk komunikasi dimana kita bisa menggunakan kelima alat indera kita ketika berkomunikasi dengan lawan bicara. Melihat ekspresi wajahnya, mencium wangi parfumnya, menyentuh hangatnya suhu tubuh mereka, mendengar langsung perubahan nada suara mereka, dan mungkin merasakan rasa minuman yang sama dengan mereka.

Tidak seperti komunikasi tatap muka yang ‘memaksa’ kita untuk berada di satu tempat yang sama dengan lawan bicara kita, CMC bisa dilakukan dengan berbagai cara menggunakan berbagai aplikasi.

Seperti misalnya Website, Media Sosial, Instant Messaging, Voice Call, Video Call, Video Conference, Video Blogging atau Vlogging, Short-Messaging Service (SMS), Electronic Mail (E-mail), Multimedia-Messaging Service (MMS), dan masih banyak lagi.

Selain itu, tanpa perlu ‘terpaksa’ pergi keluar rumah untuk bertemu dengan calon lawan bicara kita di sebuah kedai kopi dan harus mengeluarkan biaya lain untuk ongkos jalan dan membeli secangkir kopi, melalui CMC, seseorang hanya perlu berbaring di atas kasur, memegang smartphone, dan mengakses aplikasi instant messaging untuk mengobrol dengan lawan bicaranya.

Lalu, bagaimana dengan secangkir kopi ketika kita berkomunikasi tatap muka? Tentu saja pilihannya ada dua. Yang pertama, membuat kopi sendiri dengan takaran yang sangat pas dengan selera kita. Dan yang kedua, bila tidak ada atau sebenarnya tidak ingin meminum kopi, kita bisa membuat es sirup, teh manis, menuang soft drink, atau sekedar meminum air putih.

Bebas, itulah kata kunci pertama dari penggunaan CMC. Berlawanan dengan apa yang terjadi pada komunikasi tatap muka. Karena melalui CMC kita tidak perlu khawatir mengenai respons seperti apa yang akan kita dapatkan.

Kita tidak perlu dengan tidak sadar membuat skenario sendiri terkait dengan respons dari lawan bicara kita karena kita tidak bisa melihat perubahan ekspresi mikro mereka. Tidak perlu khawatir adanya dahi yang berkerut atau bergetarnya nada suara lawan bicara kita karena menahan tangis.

Tidak perlu melihat adanya mata yang berkaca-kaca atau mulut yang menganga karena terkejut. Tidak perlu khawatir dengan adanya tatapan mata sinis, atau tawa dari lawan bicara yang menganggap kita konyol. Apalagi khawatir terhadap tamparan atau bogem mentah yang akan diberikan lawan bicara ketika kita mengungkapkan sesuatu yang membuat mereka kesal.

Tanpa tatap muka, kita sungguh bebas mengungkapkan diri kita kepada lawan bicara. Tidak hanya itu, kita pun diberikan kebebasan untuk bermain dengan identitas kita. Mengubah nama, usia, jenis kelamin, latar belakang, profesi dan gaji, bahkan wajah kita dengan menggunakan foto orang lain, gaya bahasa, kepribadian, bahkan hingga ekspresi yang ingin kita ungkapkan.

Dan uniknya yang paling sering kita lakukan adalah mengetik kata ‘Hahaha’ di kala wajah kita sebenarnya menunjukkan ekspresi datar. Bagaimana dengan lawan bicara kita? Tentu saja mayoritas dari lawan bicara kita masih saja terus mempercayai kebohongan yang paling sering terjadi itu. Termasuk diri kita sendiri.

Tanpa batasan (borderless), luasnya jangkauan, dan juga minimnya waktu yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain melalui CMC ternyata juga menjadi daya tarik sendiri bagi para pelakunya.

Duduk dimana pun yang kita suka, menggunakan baju apapun yang kita suka, dan sambil melakukan berbagai hal yang tidak bisa kita lakukan ketika berkomunikasi tatap muka. Tidak hanya bisa mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, kita pun diberikan kemungkinan untuk bisa ‘berkelana’ mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya.

Amerika? Australia? Jepang? Korea? Tentu saja semudah mengkoneksikan smartphone dengan koneksi internet dan duduk di tempat manapun yang kita suka. Tidak mengherankan lagi, bahkan kini ketika kita menemui seseorang yang tidak pernah pergi keluar negeri sebelumnya tapi bisa mengetahui informasi-informasi dari negara lain, bahkan menjalin hubungan pertemanan, hingga tali kasih dengan orang-orang yang berasal dari luar negeri dan belum pernah mereka temui secara tatap muka sebelumnya.

Bebas, tanpa batasan, dan borderless. Tampak seperti bentuk komunikasi yang jauh lebih ideal dibandingkan dengan komunikasi tatap muka. Terutama bagi mereka dengan tingkat introversion dan kecemasan sosial yang tinggi.

Dimana muncul dihadapan banyak orang dan menjalin interaksi merupakan suatu hal yang menguras banyak energi, bahkan kadang terasa menakutkan. Tidak heran jika akhirnya, banyak orang yang menolak untuk bertemu dengan alasan apapun dan lebih memilih untuk berkutat dengan gadget mereka.
Image source: ayoemmalynn.files.wordpress.com

 

Tidak mengherankan juga dan tidaklah sulit, bila kita temui beberapa orang duduk menghadap meja yang sama, namun tidak melihat wajah masing-masing karena lebih memilih untuk menghadap hanya kepada layar smartphone mereka.

Tidak perlu heran juga ketika banyak orang memilih untuk tetap duduk di dalam kereta, tanpa peduli pada mereka yang membutuhkan tempat duduk, hanya karena ingin mengakses smartphone mereka.


Tidak heran pula ketika akan ada seseorang yang memilih untuk berinteraksi dengan orang lain yang lebih menyenangkan ketika ia harus secara tatap muka menghadapi lawan bicara yang tidak diminatinya.

Tanpa sadar, hal ini menghilangkan kesempatan untuk bisa berinteraksi secara tatap muka dan merasakan apa yang tidak bisa mereka rasakan melalui CMC.

Sekilas memang tidak mengherankan ketika kita melihat bahwa CMC mengundang lebih banyak peminat dibandingkan komunikasi tatap muka. Begitu banyak yang ditawarkan, namun tidak bisa ditawarkan oleh bentuk komunikasi paling konvensional, yakni komunikasi tatap muka. Jadi bagaimana:
  • Yang kita lakukan itu? benarkah memang lebih menguntungkan? dibandingkan dengan komunikasi tatap muka? Bahkan benarkah tidak masalah bagi kita, ketika harus kehilangan momen tatap muka dengan orang-orang terkasih?
  • Jika benar bahwa CMC memang lebih baik dibandingkan komunikasi tatap muka, maka mengapa pada akhirnya kita memilih untuk bertemu secara tatap muka hanya ketika terjadi miskomunikasi pada CMC dan bukan sebaliknya?
  • Mengapa masih ada kita yang buru-buru pergi ke rumah pasangan atau teman terdekat kita ketika mereka sedang bersedih?
  • Mengapa masih ada kita yang berjanji untuk bertemu secara tatap muka ketika pasangan atau teman terdekat kita datang dari luar negeri?
  • Mengapa reuni sekolah masih perlu diadakan dan dilaksanakan di sebuah aula yang besar?
  • Mengapa tidak semua rapat diadakan dengan video conference?
  • Mengapa masih ada mereka yang mengalami depresi berat hingga mengakhiri hidupnya karena komunikasi yang terjadi dengan CMC?
  • Mengapa masih ada kita yang ingin memeluk pasangan ketika kita bisa menggunakan emoticon peluk?
  • Benarkah CMC yang ‘ideal’ itu mampu mencukupi kebutuhan komunikasi kita dengan orang lain?

Advertisement


Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *