Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris

Ilustrasi Sekelompok Teroris | photo: republika.co.id

PERINGATAN: Untuk artikel ini mungkin berisi materi yang bisa mengganggu (contoh-contoh ujaran kebencian, SARA, HOAX, situs gelap, dll). Bagi Anda usia di bawah 18 tahun, silahkan tutup atau lihat artikel lainnya saja. Demi kebaikan Anda sendiri.

Teroris itu pasti radikalis, tetapi radikalis belum tentu teroris (atau bertindak terorisme). Dalam memahami motif para teroris maka kita haruslah memahami dahulu mengapa mereka menjadi teroris atau berperilaku dengan teknik terorisme. Seseorang tidak mungkin langsung menjadi teroris, mereka pasti melalui ‘penerimaan ide radikalisme’ terlebih dahulu sebelumnya.

Baik terpapar dengan ideologi-ideologi ataupun faktor-faktor lainnya. Sekarang untuk mengerti dengan menyeluruh bagaimana motif orang menjadi radikalis akan dibagi ke tiga bagian besar sebab (opini: yang dicoret tidak termasuk), yaitu:

  • POTENSI PSIKOSOSIAL PENYEBARAN RADIKALISME 
  • MASALAH PSIKOLOGIS DAN KEPRIBADIAN
  • USIA
  • KETURUNAN/GEN
  • PENGARUH OBAT/MEDIS
  • UANG/KEKAYAAN DI DUNIA
  • TAHTA/JABATAN DI DUNIA




Pertama, kita akan membahas mengenai bagian pertama yaitu Potensi Psikososial Penyebaran Radikalisme, sebagai berikut:

1. Brainwashing Ideologi

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris (6)
Ilustrasi Propaganda dari Buku & Kurikulum Sekolah | foto: bbc.com

Di Lembaga Pendidikan Kampus, SMA, Rumah Ibadah, Seminar/Forum Keagamaan.

Teknik brainwashing ini cukup banyak variannya, ada unsur-unsur teknisnya. Tetapi jika ingin pengertian singkatnya bahwa brainwashing itu sama dengan membuatnya fokus dan menerima ide/faham dengan keinginan sendiri baik secara sadar (logika penuh) maupun secara bawah sadar (kondisi tertekan, faktor lelah, pengkondisian, dll). Sedangkan berikut adalah unsur-unsur teknik mendasarnya yang juga berperan:

  • Isi pelajaran dalam kurikulum sekolah
  • Pengajaran Puisi namun mengandung kekerasan
  • Background musik yang keras-keras atau terulang-ulang,
  • Lingkungan yang terus tegang dan terlalu kaku.
  • Bisa dengan duduk di meja sambil berdiri dalam menyampaikan topik,
  • Kesan Otoritas
  • Menggunakan jargon unik dalam sharing/kumpul komunitas (e.g. bom jihad!, dapatkan bidadari surga! , mainkan!, dan istilah lainnya yg cenderung fokus didengar)

 

2. Pengaruh Berita / SARA / HOAX

Khusus untuk informasi sesat/kurang jelas dalam HOAX sebenarnya hanya memiliki 3 pola umum jika diambil dari perspektif Psikologi yaitu ada namanya informasi yang terdistorsi, tergeneralisir, dan atau terpotong/tidak lengkap. Dan dalam HOAX sering disebut juga sebagai informasi setengah fakta.

Sekarang kita akan mulai membahas dan membagikan berita-berita di Internet maupun Media sosial yang memiliki indikasi SARA, dan juga HOAX.

Lihatlah berikut contoh-contohnya:

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris
Contoh Propaganda SARA

Itu tadi adalah contoh penyebaran SARA di media sosial Facebook dalam suatu postingan Facebook seseorang.

Walaupun mendapat banyak bullying dari para netizen, tidak sedikit juga para netizen berasumsi bahwa akun wanita ini sebenarnya dibajak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya, ada info menurut segalaberita.tk, bahwa ditemukannya 3 akun yang mempunyai nama, dan foto yang sama.

Dan berikut adalah contoh-contoh lainnya, yang kedua:

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris
Contoh Propaganda SARA

yang ketiga:

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris
Contoh Propaganda SARA

yang keempat:

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris
Contoh Propaganda HOAX

Itulah contoh berita SARA maupun HOAX atau gabungannya yang sebenarnya mampu menjadi faktor pengaruh ide radikalisme muncul kepada seseorang yang masih polos (polos wawasan agamanya/wawasan umum lainnya), ataupun hanya sekedar memicu kebencian lainnya lagi.

 

3. Situs Radikal Normal dan Situs Deepweb

Surga Kelompok Radikal itu Bernama “Internet”, ucap sebuah judul artikel di www.damailahindonesiaku.com

Ini adalah contoh alamat situs Deep Web ISIS http://vlr2s4g732zw6yim.onion/  . Namun sekarang sudah tidak akif lagi karena telah dilumpuhkan oleh hacker Anonymous baik.  Mereka (hacker) itu mengaku anti-terrorist (source situs: https://pastebin.com/JciKUnVB).

Berikut ini contoh halaman beranda situs Deep Web jenis Red Room ISIS saat diakses yang memberikan akses ke ruang merah (Red Room) pembunuhan.

Ketahui 14 Faktor Lengkap Seseorang Menjadi Radikalis & Teroris
Penampakan Situs Deepweb (situs gelap) Pembunuhan Live Streaming

 

Dan yang kedua adalah situs normal radikal, yang sering diblokir oleh pemerintah kita melalui Kemkominfo, namun yang diblokir seringnya adalah DNSnya di level ISP (Internet Service Provider). Saya rasa tidak perlu saya berikan contohnya, silahkan cari sendiri di internet situs radikal yang telah diblokir pemerintah RI. Dan sekali lagi saya katakan itu adalah situs normal. Berbeda dengan situs Deep Web. Situs deep web tidak bisa diblokir. Kecuali dengan cara rumit tertentu.

 

4. Anonymous MedSoc Account

Instagram, FB, Youtube, Twitter, Telegram adalah media-media sosial yang sering digunakan oleh kelompok Anonim yang dimotori oleh Teroris dalam mempengaruhi/propaganda terhadap calon pengikutnya atau sekedar keresahan masyarakat/melumpuhkan suatu negara.

Mengenai Telegram, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pernah menyatakan bahwa minimnya data identitas diri pemilik akun Telegram adalah sebab membuat aplikasi tersebut diblokir di Indonesia (baca: bukan aplikasi yang diblokir, tetapi DNS di level Internet Service Provider yang diblokir).

Berikut pernyataan salah satu Deputi BNPT, “Kalau menurut pantauan yang kami lihat, Telegram ini tidak harus menyertakan identitas yang lengkap dalam membuat akun. Beda dengan Facebook, aplikasi tersebut memasukkan data nomor, data diri, dan harus dikonfirmasi benar. Kalau di Telegram tidak,” kata Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Abdul Rahman Kadir di Jakarta, Selasa, 18 Juli 2017. (source: tempo.co)

Di lain aplikasi juga seperti Twitter baru-baru ini mengumumkan memblokir sekitar 10.000 akun yang berpotensi terkait kelompok radikal ISIS.

Twitter mengaku jika porses pemblokiran ini dilakukan berdasar kerjasama laporan pengguna lain. Meski begitu, menurut liputan6.com ternyata masih ada ribuan lagi akun Twitter pro-ISIS yang sekarang masih aktif.

Terkait hal ini Menteri Kemominfo Pak Rudiantara berpendapat, “Ini tanggung jawab facebook dan twitter karena mereka berbisnis di Indonesia dan memanfaatkan pasar Indonesia. Kalau enggak mau bertanggung jawab, jangan berbisnis di Indonesia … Google menerapkan di Indonesia ini sebagai negara di kawasan yang pertama untuk Trusted Flagger. Facebook dan Twitter juga saya minta untuk melakukan hal yang sama,” kata Rudiantara kepada wartawan di Jakarta (27/8/2017) (source: damailahindonesiaku.com).

 

5. Tempat Separatis

Tempat yg memiliki kelompok separatis akan menjadi daerah yg lebih aman bagi kelompok teroris berdiam. Contoh-contoh kelompok separatis di dunia cukup banyak. Kalau menguti dari sumber Dw.com seperti di Filipina ada banyak kelompok separatis yaitu MNLP, MILF, NPA, Jemaat Abu Sayyaf, AKP, BIFF, Grup Maute, Isnilon Hapilon.

Di Indonesia sendiri pun yang pernah menjadi kelompok separatis ada beberapa (kurang tahu yang mana masih aktif tidaknya) yaitu ada Organisasi Papua Merdeka (OPM), Organisasi Aceh Merdeka, Organisasi Borneo Nations. Itu tadi seperti dilansir dari Wikipedia.org.

 

6. Krisis Kemanusiaan

Contohkanlah sebuah krisis kemanusiaan Rohingnya Myanmar ini. Dalam Bbc.com mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai menyiratkan bahwa langkah diplomatik dan mengirim bantuan bagi warga Rohingya yang mengungsi ke negara tetangga Bangladesh ikut meredam [strategi preventif] pemanfaatkan krisis ini untuk kepentingan [motivasi] kelompok-kelompok radikal [bergerak].

Langkah pemerintah sudah tepat. Pemerintah Indonesia dengan cepat merespons dengan memberi bantuan terhadap para pengungsi (Rohingya), sehingga otomatis isu-isu itu akan tereliminir,” kata Ansyaad kepada Wartawan (21/09/2017).

Hal ini secara tidak langsung dapat sebagai faktor mengundang kelompok keras Indonesia mau jihad ke sana (ke Myanmar).

Di Indonesia pun Isu Rohingnya ini sudah banyak aksi. Dalam Okezone.com seperti pendemo peduli Rohingya memadati kawasan Bundaran HI (6/9/2017). Sebuah orasi yang dapat mempengaruhi masyarakat lain seperti, “Usir-usir Myanmar, usir Myanmar sekarang juga,” seru orator di Bundaran HI, Rabu (6/9/2017). Beberapa ormas yang telah hadir di antaranya Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila, Geprindo, Bamus Betawi dan lainnya seperti dilansir dalam Okezone.com.

Menteri Luar Negeri RI pun mengatakan dalam kompas.com bahwa masalah atau Isu krisis kemanusiaan ini haruslah diatas bukan hanya dari hilir, tapi dari hulu (sebab mendasarnya), “Masalah itu di hilir seperti pengungsi yang berlari ke Bangladesh. Masalah di Hulu, mulai dari aspek politik, hingga concrete cooperation. Pendekatan kami concrete comprehensive. Itu upaya kita untuk meng-address … Empat prioritas kerja sama bantuan kemanusiaan yang akan dilakukan aliansi kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar adalah edukasi, kesehatan, ekonomi dan bantuan dasar,” kata Retno Menlu RI (03/09/2017).

Dalam Thejakartapost.com Ada juga aksi di Medan (8/9/2017) yang mengeluarkan orasinya, “We are calling on all Buddhist monks at this vihara to immediately convey our stance to their colleague monks in Myanmar that they need to stop the violence against the Rohingya Muslims,” ucap Rafdinal sebagai seorang Muslim.

 

7. Merasa Tidak Adil Diperlakukan Pemerintah

Sekretaris Jendral DPP PKB Abdul Kadir Karding di Jakarta seperti dilansir Antaranews.com (26/5/2017) berpendapat bahwa karena kesenjangan sosial-ekonomi yang tinggi, maka berpotensi menyebabkan sebagian masyarakat merasa tidak diperlakukan secara adil oleh pemerintah.

Dari perasaan semacam itu kemudian paham-paham radikal dan teror mudah tertanam dalam benak pikiran seseorang,” ujar Sekjen Abdul Kadir (26/5/2017).

 

Kedua, masalah psikologis dan kepribadian:

8. Putus Cinta & Pengalaman Buruknya

Dalam Piyunganonline.co (Okt/15) seorang pria yang tidak diketahui identitasnya ditangkap oleh polisi Kota Palestina. Ia dilaporkan akan melakukan serangan bom bunuh diri, meskipun ada anggota keluarganya di tempat ia beraksi. Pria ini mengatakan kalau 72 bidadari sedang menunggunya di surga dan tidak ada alasan logis untuk menikahi satu orang wanita di bumi.

Saat menjalani pemeriksaan di kantor polisi, pria ini mengatakan: ”Jika aku pergi meledakkan diri dan aku lihat keluargaku ada di sana, aku akan tetap meledakkan diriku.” Jika ditanya apakah dia ingin menikah, ia menjawab : ”Tidak, 72 bidadari sedang menungguku di surga, jadi kenapa aku harus punya satu di dunia?” (source: piyunganonline.co)

Kasus serupa juga dengan pelaku bom di hotel Marriot di Indonesia dahulu, dan pelakunya tersebut mengunggah video di Youtube dengan mengakui bahwa dia melakukannya karena bidadari surga juga (catatan: saya rasa tidak ada lagi di Youtube).

 

9. Kebutuhan Melawan / Agresif

Orang-orang yang telah memiliki sikap dan kepribadian keras dalam lingkungan hidupnya (meskipun sebuah kepribadian ini tidak menetap, bisa berubah-ubah), namun jika sifat ini munculnya sering dalam hidupnya berperilaku keras, suka melawan, agresif, maupun berkata-kata yang keras maka tidak sulit bagi Dia ‘mungkin saja’ akan terpengaruh dengan kelompok lain yang memiliki sifat yang sama.

Banyak Siswa SMP & SMA di JKT Setuju Kekerasan dgn Dasar Agama. Juga banyak Guru Agama di JKT Setuju Kekerasan dgn Dasar Agama & Moral. Itu adalah sebuah survei yang dilakukan oleh LaKIP (Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian, Okt 2010-Jan 2011) (source: BNPT. Anak Muda Cerdas Mencegah Terorisme. 2015).  Namun tidak menutup kemungkinan di tempat lain juga sama atau mungkin berbeda.

 

10. Faktor Lelah dan Mudah Terdoktrin

Apalagi saat dalam kondisi lelah juga seringkali terbuka sugesti, dan mudah sekali masuk informasi atau ide yang diberikan orang lain.

 

11. Merasa Tidak Berguna

Dan saat kita sedang down (merasa agak depresi) terkadang membuat diri kita terus mencari hal lain yang bisa membuat kita bergerak. Dalam fase down ini atau perasaan tidak berguna juga sering menyesatkan seseorang malah bergabung dengan kelompok teroris, bukan karena ingin bergabung cuma-cuma, tetapi karena sebuah ideologi yang dia anggap sesuai dengan dirinya yang memicu dirinya untuk mengikuti jalan terorisme lain.

 

12. Simpati / Kebutuhan Dipedulikan

Pada orang yang suka mencari perhatian atau ingin dipedulikan banyak pihak, juga mudah terpengaruh untuk bergabung sebagai identitas kelompok yang menerimanya.

 

13. Kebutuhan Ingin Menikah

Dalam artikel Bbc.com yang berjudul “Pendidikan ISIS yang mengubah anak-anak menjadi pembunuh” memberitakan bahwa Bagi seseorang bernama Mutassim, imbalannya adalah seorang istri, begitulah janji dari ISIS. Pada usia 14,5 tahun (sebelum masuk ISIS) dia amat ingin untuk menikah namun keluarganya tidak setuju dan di sinilah ISIS masuk dengan bujuk rayunya.

 

Ketiga, masalah usia:

14. Usia masih Labil

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, sudah jelas faktor Usia yang masih labil atau sekitaran di bawah 18 tahun (terkadang di bawah 25 tahunan) orang-orang cenderung masih mudah didoktrin atau terjadinya brainwashing, bisa juga disebut karena anak muda yang sedang dalam pencarian identitas.

 

Dan kesimpulannya untuk menghentikan penyebaran faham radikalisme maka haruslah pemerintah peka dengan faktor-faktor pertama yaitu psikososial tadi, dan untuk faktor kedua yaitu masalah psikologis, kepribadian, dan usia ini letaknya sedikit kompleks dan harus dibenahi dahulu dari lingkungan hidupnya, pengasuhan orangtua, dan wawasan anak itu sendiri sejak dini.

 

Namun jika Anda belum tahu metode pemerintah Republik Indonesia dalam menangani terorisme ini, sebenarnya sudah ada lembaga strategisnya yaitu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang memiliki dua metode ada yang namanya penindakan dan ada dari hulu yaitu pencegahan. Seperti dalam kompas.com pernyataan Kepala BNPT sekarang Komjen Pol Suhardi Alius, “Kami menggunakan dua langkah dalam penanggulangan terorisme, yaitu soft approach (pencegahan) dan hard approach (penindakan),” ujarnya, pada International Exhibition of Home Land Security 7th Edition di Singapura (5/4/2017).





Advertisement


Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *