Melihat Masalah dengan Perspektif Sistem

Ilustrasi PERSEPSI dalam keilmuan PSIKOLOGI | Image source: neurosemantics.com

Changing mental camera angles, switching radio stations, and walking a mile in different shoes. (Mengubah sudut pandang kamera mental, memindah stasiun radio, dan berjalan satu mil dengan sepatu berbeda.)” -John D Hoag

Para mahasiswalah yang sering memakai sudut pandang ini. Dengannya dapat berjalan dengan lancar organisasinya ataupun urusan administrasi kampusnya yang kadang rumit.
 
Terlepas hal itu, kiranya kita boleh bahas dahulu apa itu ‘perceptual position’ dan ‘memandang dengan perspektif sistem’ yang bagaimanakah maksudnya itu?
 
Saat Anda berkomunikasi dengan orang, anda akan bersikap dengan semacam perspektif khusus yang sifatnya fluktuatif.
Yang artinya Anda bisa saja menggunakan perspektif diri sendiri, lawan bicara, objektif, atau sistem dalam kondisi-kondisi tertentu dan berubah-ubah.
 
Dalam perspektif diri sendiri Anda bicara dalam diri, “Menurutku masalah ini membuatku tidak nyaman dan membosankanku.” (1st Perceptual position)
 
Atau mungkin ‘mencoba masuk’ perspektif lawan bicara Anda, dan bicara dengan Dia, “Anda barusan terdengar sedih menjelaskan hal itu.” 2nd Perceptul position / emphatic state)
 
Atau jika perspektif objektif Anda keluar dari perspektif diri dan perspektif lawan bicara, namun memandangnya dengan objektif, menganakisis permaslalahan tanpa emosi, penuh logika terbaik. Seperti, “Coba anda ulang lagi yang anda katakan, kedengarannya info Anda mungkin saja … persentase bisa salahnya di atas 50%, coba analisa ulang dengan tenang.” (3rd Perceptual position / Dissociated state)
 
Tetapi berbeda ada kalanya Anda menggunakan perspektif sistem. Di sini bagi Anda yang sudah ‘fase dewasa’ mungkin secara bawah sadar pasti sudah mulai memakai sudut pandang ‘sistem ini’. Contohnya, “Aku harus menyelesaikan tugasku sebagai koordinator majalah, walaupun aku sedang tidak enak diejek mereka.” (4th Perceptual position / in-group state).

Keuntungan 4th perceptual position:
– Dapat loyal dengan organisasi
– membantu demonstrasi berjalan dengan satu visi
– komunikasi korporat
– dll.

Kerugian 4th perceptual position:
kadang berlebihan dlm berorganisasi, tanpa memperhatikan isi hati orang lain/dirinya sendiri
– kadang kakunya belief yang merubah dirinya jadi pembangkang/tenggelamnya dlm 4th perceptual postion (contoh anggota organisasi kriminal berlabel keagamaan)
– kadang belanja/membeli suatu layanan menyalahkan petugas/pelayan di sana, padahal pelayan tsb hanyalah pelayan, dia menjalankan prosedur sesuai sistem/4th perceptual position. 
 
Ohya, untuk 5th Perceptual Position / sudut pandang universal akan saya bahas lain waktu. Intinya posisi orang kelima/persepsi kondisi ini mengenai proses dan teorinya Husnodzon dalam Islam yang bisa berpindah-pindah dari 1th, 2nd, 3rd, hingga 4th. Bisa dikatakan orang yang memiliki kemampuan Husnodzon bagus dapat memindah/menggeser PERSEPSI dirinya sendiri. Apakah dia harus melihat masalah dengan disosiasi/objektif tapi melukai hati orang lain, ataukah menilai masalah dengan subjektif/1st tapi tidak pada tempatnya, ataukah berkelakuan tak beraturan padahal seharusnya mengikuti pimpinan organisasi/kelompoknya (4th perceptual/in-group).
 
sekian sharing ilmu tentang PERSEPSI.
 
Referensi:
Bodenhamer & Hall, 1999. The User’s Manual for The Brain: The Complete Manual for Neuro-Linguistic Programming Practitioner Certification

Advertisement


Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *