Panduan PFA (Psychological First Aid) Johns Hopkins University

Panduan PFA (Psychological First Aid) Johns Hopkins University

Mengenal Apa Itu PFA?

Dalam panduan PFA yang saya tuliskan ini bukanlah sebuah penanganan atau tindakan terapi terhadap gangguan psikologis trauma atau PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). (Everly, PFA Video. 2016).

Tetapi tindakan PFA maksudnya bagi penyintas adalah suatu kebutuhan urgent yang sering tidak disadari penyintas dalam menunggu tindakan personel kesehatan mental atau personel emergensi dalam menetralisir kondisi psikologisnya yang sedangmengambang‘ (surge).

Dan dampaknya bukan jangka pendek, tetapi jangka panjang, yang dalam kontinum akhir bisa menjadi gangguan PTSD, bisa juga gangguan jenis lainnya (Everly, PFA Video. 2016)..

Maka dari itu perlunya bantuan psikologis dini (PFA) ini dikuasai oleh semua kalangan, tidak hanya personel kesehatan mental, tetapi juga oleh personel emergensi maupun personel keamanan pemerintah.

Sekarang kita akan mengenal panduan PFA metode R.A.P.I.D. Yaitu prinsip kerja yang dibangun dan didesain oleh departemen psikologi Johns Hopkins University yang ada di Amerika Serikat.

RAPID dalam panduan PFA ini terdapat tahapan dan arah mendasar dalam bantuan psikologis dini atau disebut juga “Psychological First Aid“.

Psychological First Aid (PFA) adalah manifestasi tindakan dari sikap kepedulian dan dukungan kehadiran untuk menetralisir tekanan mental akut (acute distress) dan mengasesmen kebutuhan mental yang mungkin dampaknya jangka panjang (Everly & Flynn, 2005).

Ketika melihat aspek kesehatan mental penyintas baik saat kejadian emergensi dan bencana alam, kita sering berada dalam kondisi ‘mengambang’ (surge). Sebagaimana dalam bukti lebih dari 160 penelitian bahwa setidaknya 41% dari jumlah tersebut pada akhirnya di waktu kemudian hari-hari hidup berikutnya menampilkan pengalaman ketidakberfungsian psikologis (very severe impairment) dari sejumlah penyintas hasil kejadian bencana dulu (Norris, et.al., 2006).

Dalam beberapa jam setelah bencana terjadi, juga ada 25% (Beverly?) dari jumlah orang yang melalui waktu-waktu kejadian di daerah bencana tersebut yang terjadi mungkin akan mengalami berdampak pingsan (stunned), linglung (dazed), sikap acuh (aphatetic), dan kehilangan arah (wandering) (Everly, PFA Video, 2016).

 

Sejarah Singkat Istilah Dan Konsep PFA Muncul

Diambil dari (Everly, PFA Video, 2016) bahwa diawal:

1954 – Di sebuah monograf yang berjudul Psychological First Aid yang dipublikasikan oleh APA (American Psychiatric Association)

In all disasters, whether they result from the forces of nature or from enemy attack, the people involved are subjected to stresses of a severity and quality not generally encountered

It is vital for all disaster workers to have some familiarity with common patterns of reaction to unusual emotional stress and must also know the fundamental principles of coping most effectively with disturbed people …” -American Psychiatric Association

 

1992 – Palang Merah Amerika

Almost 40 years later, a disaster mental health initiative was fielded by the American Red Cross

It consisted of corps of licensed mental health clinicians who were provided a brief refresher in psychological crisis intervention and informed how to work within the ARC system

First national deployment: August, 1992, in response to Hurricane Andrew.

This deployment system worked well in most disasters.

 

2005 – Hurricane Katrina

In 2005, Hurricane Katrina’s devastating impact on the Gulf Coast of the United States demonstrated the importance of having mental health resources that extend beyond the imporation of external mental health clinicians.

Importance of building surveillance and acute intervention resources became obvious.

 

2003 – IOM

A broad spectrum of professional responders is necessary to meet [disaster-related] psychology needs effectively. Those outside the mental health professions, who may regularly interface with the public, can contribute substantially to community healing … However, these professionals will require knowledge and training in order to provide effective support.” – IOM, 2003

In past decaded, there has been a growing movement in the world to develop a concept similar to physical first aid for coping with stressful and traumatic events in life. This strategy has been known by a number of names but is most commonly refered to as psychological first aid (PFA).” -IOM, 2003

 

Gambaran Besar Panduan PFA R.A.P.I.D

Panduan PFA Model model RAPID ini memiliki struktur simpel yang bisa diterapkan dalam hitungan menit dan sangat berguna mengurangi tekanan mental awal (acute distress) (Everly, PFA Video. 2016).

Video Pengantar

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937823

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu.

 

Panduan PFA dikenal dengan akronim yang mudah diingat yaitu RAPID (literalnya berarti ‘cepat’). Melakukan tindakan dengan cepat. Berikut adalah kepanjangan dari singkatan tersebut (Everly, PFA Video, 2016):

R = Reflective Listening & Rapport

A = Assessment

P = Prioritization

I = Intervention

D = Disposition

+ S = Self-Care

 

Bagian ‘S’ nanti lebih lanjut bagian akhir akan ada penjelasannya bagaimana mempedulikan diri sendiri dan proporsinya dengan mempedulikan orang lain.

 

Gambaran Lengkap Panduan PFA RAPID

Tahap pertama (Listening & Rapport). Atau kerelaan untuk mendengarkan mereka secara reflektif dan empatik, agar mendapatkan keakraban yang cukup.

PFA Rapport and Listening

Jika Anda bingung apa yang akan Anda lakukan saat di tempat kejadian, maka sangat mudah yaitu mulailah ‘mendengar’ (Everly, 2016).

Mencoba mendengarkan apa yang dikatakan mereka yang kita dekati haruslah orang-orang yang terlihat sebagai ‘penyintas’ atau sudah dirujuk dengan pasti (kata warga sekitar/pemerintah) bahwa dia memang ‘penyintas’.

Lalu apa sebenarnya ‘penyintas’ itu? Penyintas dalam Kamus Indonesia adalah berasal dari kata kerja dasar ‘sintas’ yang artinya “terus bertahan hidup, mampu mempertahankan keberdaannya (source: KBBI, Ebta Setiawan).”

Namun dalam konsep psikologi ‘penyintas’ ini hanyalah ada tiga 3, dan tugas kita sebagai relawan PFA di tempat kejadian kita ‘wajib’ mendengarkan ‘secara mendalam’ orang-orang yang sifatnya prioritas, dan ‘menselesaikan/memfilter’ dengan cepat orang yang belum prioritas atau “pihak relawan anggap” bahwa penyintas mampu saja melewati masa krisisnya itu yang artinya tidak ada tindakan lebih lanjut yang diperlukan (Everly, 2016).

Lalu apa pula ‘orang prioritas’ ini? Anda akan mendapatkannya pada bagian selanjutnya di bawah bagian “Assessment“.

Sebelum itu, perlunya Anda mengenal 4 hal yang sangat baik jika Anda lakukan dalam tahap ini, yaitu (Everly, PFA Video, 2016):

  • Kenalkan Dirimu. Jelaskan tujuan kehadiranmu.
  • Tanyakan apa yang terjadi. Parafrase poin-poin kuncinya.
  • Tanyakan kondisi dirinya. Apa dampak yang terjadi pada dirinya. Bagian ini sering ditukar dengan yang di atas urutannya tergantung situasi.
  • Klarifikasi Pernyataan Ambigu. Contohnya perkataannya makna “saya depresi…” atau perilakunya ‘saya sedang cemas…‘ dapat kita lakukan klarifikasi sesuai proporsi tertentu.

 

Tahap Kedua (Assessment). Atau pengukuran kondisi kebutuhan psikologis dan fisik / biologis dasar.

PFA Asessment

 

Eustress. Mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka terhadap pada hal-hal yang mereka harus capai (Everly, PFA Video, 2016).

Kelompok Eustress sebenarnya juga tidak senang terjadinya kesulitan dan bencana tersebut (Everly, 2016).

Dysfunction. Sering disebut juga ‘Impairment (ketidakberdayaan)’ Disni adalah mereka yang memiliki ketidakberdayaan yang berat. Jika ada hal-hal yang mereka perlu lakukan, dan dan mereka tidak dapat melakukannya, tugas kita adalah mendampingi mereka secara langsung ataupun tidak langsung sesuai proporsinya. Kelompok penyintas yang ini adalah prioritas kita. (Everly, 2016).

Distress. Ini sedikit membingungkan, karena orang-orang ini mungkin kelihatannya baik-baik saja, tetapi mereka sedang melakukan apa yang mereka butuh agar diatasi. Meskipun ini adalah gejala ringan, tetapi lanjutkan monitor mereka. Dan biasanya, dalam kelompok ini kita jarang memberikan bantuan langsung, tetapi secara tidak langsung seperti bantuan kebutuhan fisik, berteduh, makanan, pakaian, dan sejenisnya. Jika kita abaikan kebutuhan di sini, mereka berpotensi bergeser ke arah Dysfunction dengan melalui tahapan kehilangan solusi, masalah fungsi rutinitas, dan langkah memenuhi kebutuhan hidup hariannya. (Everly, PFA Video, 2016). Jadi, kelompok penyintas ini adalah prioritas kita juga seandainya Anda sebagai relawan.

Untuk mengenal lebih mudah saya sertakan kutipan reaksi-rekasi yang mungkin ditemui pada kelompok Distress maupun Dysfunction.

Pertama, Distress (Everly, PFA Video, 2016):

  • Aspek Kognitif; kebingungan sementara, ketidakmampuan berkonsentrasi, pengurangan kapasitas menyelesaikan masalah, kelelahan berpikir, memikirkan suatu hal berulang, imajinasi kilas balik kejadian, mimpi buruk.
  • Aspek Emosi; ketakutan, kesedihan, mudah marah, frustasi, (merasa kehilangan, kecemasan. Tentu dalam hal ini proporsinya tidak boleh sembarangan menilai emosi yang berada dalam distress dengan yang ada di eustress biasa.
  • Aspek Tingkah Laku: penghindaran gejala fobik sementara, perilaku berulang-ulang, hoarding, masalah tidur, masalah kebiasan makan, mudah terkejut,
  • Aspek Spiritual: mempertanyakan keyakinannya, mempertanyakan tindakan Tuhan.
  • Aspek Fisik: perubahan nafsu makan, perubahan hawa nafsu, sakit kepala karena psikosomatis, sakit urat/gejala stroke karena psikosomatis, penurunan imunitas. Catatan lain: jika adanya perubahan fisik/fisiologis yang berkepanjangan atau gejalanya tersebut maka haruslah dievaluasi oleh profesional medis/dokter..

Kedua, Dysfunction (Everly, PFA Video, 2016):

  • Aspek Kognitif: bingung yang diluar kewajaran / pengurangan fungsi kognitif, kehilangan harapan, berpikiran bunuh diri / menyakiti diri, berpikir membunuh / menyakiti orang lain, halusinasi, paranoid.
  • Aspek Emosi: serangan panik, depresi yang tidak produktif, ekspresi emosi mati rasa, gejala PTSD.
  • Aspek Tingkah Laku: penghindaran yang persisten, perilaku berulang yang tidak produktif, agresi / kekerasan, perilaku tertutup, reaksi impulsif / terlalu cepat mengambil resiko, penyalahgunaan obat, minuman bersoda/memabukan.
  • Aspek Spiritual: penghentian rutinitas sembahyang/praktek agama, projecting faith onto others.
  • Aspek Fisik: perubahan fungsi jantung/cardiac, perubahan fungsi urin/gastrointestinal, ketidaksadaran, sakit perut, pusing, adanya fisik mati rasa/kelumpuhan di lengan/kaki/wajah, ketidakmampuan berbicara / memahami bicara orang lain. (P.S: Cari bantuan medis untuk semua aspek fisik di atas).

 

Tahap Ketiga (Prioritazitaion). Penuhi kebutuhan medis dan fisik dasarnya pertama-pertama (Maslow, ****). Saat Anda ragu lakukan sebuah komplain/laporan ke pihak tertentu bahwa medis telah diperiksa (Everly, 2016).

Dan disini ada teka-tekinya. Penelitian atau teorinya Maslow (****) tidak bisa benar-benar mempertimbangkan jika situasinya bencana atau perang untuk hal itu (Everly, PFA Video, 2016).

Kita tidak boleh melangkah langsung ke level ketiga kebutuhan Maslow yaitu affection affliation, accepatence dan support. Dan apa sebenarnya ini? mencari dukungan interpersonal dari teman-teman, keluarga, rekan kerja dan bantuan komunitasi dalam hal mencapai level kebutuhan tersebut (Everly, PFA Video, 2016).

Anda haruslah mengamati kebutuhan langkah-demi langkah, disini tidak ada yang namanya melewati sebuah langkahpun (Everly, 2016). Karena dalam strategi dan panduan PFA RAPID kami kebutuhan medis dan fisik dasar harus selalu diutamakan (Everly, 2016).

Dan dalam tahap pemprioritasan ini ada pendekatan yang sering digunakan

Evidance-based dan Risk-based (3D).

Pertama, Evidance-based adalah …………..*artikel menyusul, segera.*………….

Sedangkan Risk-based (3D) adalah …………*artikel menyusul, segera.*………….

  1. Death
  2. Dislocation
  3. Disabling Impact

I made the point earlier that intervention is predicated on the story on your assesment, if you will… No two people are everly alike and no two situations are ever alike. And even though two people may be in the same situation, they may have experienced that situation very differently.” -George Everly

 

Tahap Keempat (Intervention). Atau Intervensi adalah hanya sebuah tindakan bukan psikoterapi. Ini juga bukan sebuah penggantian untuk terapi. Kita bukan melakukan diagnosis dan treatment, tetapi melakukan crisis intervention (tindakan krisis) (Everly, PFA Video, 2016).

Dalam intervensi PFA ada dua opsi terbaik yang memungkinkan dapat Anda lakukan, yaitu (Everly, PFA Video, 2016):

  • Jika psikologis orangnya terlihat belum stabil. Maka lakukanlah penstabilan dengan satu atau lebih berikut ini; (i) Hilangkan pemicu provokatif baik lingkungan atau pihak tertentu, (ii) Dorong agar memiliki fokus pikiran terhadap tugas dasar / okupasi, (iii) Arahkan dia berpeluang menyalurkan pelampiasan emosinya / catharsis, (iv) Perlambat aksi spontannya / impulsifnya yang kurang pantas, (v) Gunakan pengalih perhatian / distraction.
  • Kurangi tekanan mental awalnya (acute distress). Kembangkan kemampuannya berfungsi dan produktif dengan; (i) Edukasi hal yang memperjelas / explanatory guidance, (ii) Normalisasikan tekanan mentalnya, (iii) Yakinkan masih ada harapan, (iv) Edukasi hal yang mengantisipasi / anticipatory guidance, (v) Perlambat aksi spontannya / impulsifnya yang kurang pantas, (vi) Edukasi teknik manajemen stres, dan menyelesaikan masalah, (vii) Benarkan kesalahfahaman memahami informasi / sesuatu hal, (viii) Bingkai ulang persepsinya jika memungkinkan.

 

Fahamilah Anda tidak dapat memperbaiki masalah orang-orang. Anda bisa membantu mereka, Anda bisa membuat sumberdaya-sumberdaya untuk mereka…” -George Everly

Tahap Keempat (Disposition). Jika setelah tindakan (intervention) Anda mengamati orangnya terlihat mampu dengan dirinya, maka selesai sudah (Everly, PFA Videoo, 2016).

Dalam tahap ini Anda direkomendasikan mem-follow-up orang tersebut dengan cara yang paling sesuai. Kadang-kadang follow-up kedua juga menjadi berguna. Bagaimanapun juga, jika ternyata perlunya follow-up ketiga, ini berarti saatnya Anda berhenti dan memfasilitasi akses terhadap dirinya ke level bantuan yang lain (another level of care) (Everly, PFA Video, 2016).

Contoh level bantuan yang lain (Everly, PFA Video, 2016) adalah jika dapat diamati apa yang signifikan bagian dirinya yang perlu di carikan bantuan baik psikologis, medis, logistik, finansial, atau spiritual, maka dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu; (i) Motivasi dia ke sana, (ii) Berikan harapan masih ada, (iii) Follow-up pertemuan selanjutnya di luar PFA lapangan Anda.

Level bantuan ini juga bisa dibagikan dengan rinci sebagai berikut (Everly, PFA Video, 2016):

  • Menemui teman-temannya
  • Menemui keluarganya
  • Lembaga Emergensi
  • Hotline Telepon Krisis
  • Telepon Emergensi Polisi / Paramedis
  • Bagian penanganan bencana
  • Ahli agama
  • Keuangan/Pekerjannya

 

Video Full Simulasi (Tepat) Penerapan PFA R.A.P.I.D

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208947483

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

Video Simulasi (Kesalahan Fatal) dalam PFA

A. Kesalahan Fatal dalam Reflective Listening & Rapport

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937833

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

B. Kesalahan Fatal dalam Assessment

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937794

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

C. Kesalahan Fatal dalam Prioritazitation

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937828

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

D. Kesalahan Fatal dalam Intervention

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937815

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

E. Kesalahan Fatal dalam Disposition

oleh: George S. Everly

Embedded Video source: https://vimeo.com/208937797

Tambahan: Jika video gagal tampil karena jaringan/terblokir oleh ISP Anda, maka Anda harus ganti operator Internet dulu. Dan mengaktifkan subtitle Englishnya klik tombol “CC” di dekat video.

 

Hal Fatal Terakhir: “Kepedulian Diri” yang Tidak Boleh Diabaikan

Meskipun hal fatal terakhir, tetapi Anda harus melakukan, mempersiapkan, dan mengumpulkan informasi tentang “Kepedulian Diri (Self-Care)” ini pada awal dan sebelum Anda melangkahkan kaki Anda ke tempat kejadian. Ini jika kasusnya cukup resmi atau tempat jauh, tetapi jika hanya tetangga Anda terjadi bencana maka Anda tidak perlu ‘memperdulikan diri’ mempersipakan segalanya, pastinya Anda sudah tahu yang saya maksud.

How about if I tell the best way of of caring for others is to care for yourself … because what we don’t want is for you to be a victim … have seen many of my colleagues become victims to the process of helping.” -George S. Everly

Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda tanyakan ke diri sendiri dalam “paket logistik sederhana” yang “sebelum perjalanan menuju ke tempat kejadian“, yaitu (Everly, PFA Video, 2016):

  • Reporting when?
  • Durasi?
  • Transportasi?
  • Reporting where
  • Reporting to whom? contact information?
  • Otoritas?
  • Malpraktik?
  • Specific duties?
  • Safety?
  • How to handle violence, suicide, homicide, acute psychosis.

 

Ingat juga bahwa Primary civilian victims experience adverse reactions to disaster, but never forget that First responders and others in the helping professions may also be vulnerable to similar adverse reactions. (Everly, PFA Video, 2016).

Should psychological first aid be available to first responders? The answer is of course yes. But aren’t you a first responder? Shouldn’t you be concerned with the well being of those you work with and your own personal well being.

Apa saja dampak “Kepedulian Diri” ini jika ternyata diabaikan? Anda dapat mengimajinasikannya sekarang dan berikut adalah contohnya (Everly PFA Video, 2016):

  • Burnout. Dalam gejala burnout seperti procrastination, chronic fatigue, cynicism, chronic lateness, difficulty experiencing happiness, pessimism, sense of a foreshortened future, loss of satisfction in one’s career or life, questioning one’s own faith.
  • Compassion fatigue
  • Get sick or injured
  • Substance abuse. ETOH, Energy drinks, Antihistamines, Illicit drugs.
  • Risk taking/impulsive actions
  • Can’t function effectively
  • Guilt. Guilt for doing something, guilt for not doing something, survivor guilt.

 

Vicarious Trauma:

  • Psychological trauma may be contagious
  • Compassion fatigue
  • Responders can experience many of same symptoms as survivors; depression, difficulty sleeping, startle, hyper-vigilance, nightmares, anxiety, obsession thoughts of the trauma, post-traumatic stress disorder, other symptoms of burnout.

 

Selesai sudah saya berbagi metode PFA RAPID ini. Semoga bermanfaat. Di bawah adalah checklist pemahaman yang saya ambil dari George S. Everly dalam video pelatihan PFA (Psychological First Aid) nya beserta kunci jawaban quiznya. Berikut:

 

Checklist Pemahaman:






































Kunci Jawaban: Download

 

Penutup

Sekarang bisakah Anda menebak? berapa banyak orang-orang yang bisa Anda ambil Tindakan PFA? dalam sehari? sehari dalam tempat kejadian? atau katakanlah selama 8 jam? 9 jam di lapangan?. Jika Anda mengatakan ‘satu’, “Anda kehilangan kapal Anda (Everly, PFA Video, 2016).” Anda harusnya fokus ke bidang terapiutik saja (Everly, PFA Video, 2016).

Menurut praktisi PFA George Everly kita haruslah mampu menghandle dimanapun kisaran 8 sampai 15 orang-orang, yang banyaknya perbedaan individu dari 8 hingga 15 intervensi berbeda sehari (Everly, PFA Video, 2016).

Kesimpulannya (Everly, PFA Video, 2016) adalah untuk dapat melakukan sebanyak itu kuncinya; (i) Stabilisasi Reaksinya/Stabilize, dan atau (ii) Kurangi Gejalanya/Mitigate.



Artikel lainnya:
Iklan: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *