Varian Baru Psikosomatis (Psychosomatic) DSM-5 (Easy Explained!)

Gangguan Somatoform, Sakit Fisik Karena Stres: Kenali Sebabnya
Image source: naturalfertilitybreakthrough.com

Gejala-gejala somatis dan gangguan terkait lainnya yang merupakan kategori baru dalam DSM-V yang mencakup: gangguan gejala somatis (somatic symptom disorder), gangguan kecemasan penyakit (illness anxiety disorder), gangguan konversi (conversion disorder), faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, serta gangguan buatan (factitious disorder).

Semua gangguan tersebut memiliki ciri khas serupa; yaitu adanya hubungan antara gejala somatis yang dialami dan distress (kondisi stres yang merugikan) serta hilangnya fungsi anggota tubuh. Individu dengan gangguan gejala somatis biasanya ditemukan pada perawatan rumah sakit biasa serta kondisi medis lainnya namun malah jarang ditemukan pada kondisi psikiatri maupun kondisi kesehatan mental lain.

Gangguan Gejala Somatis (Somatic Symptom Disorder)

Menurut DSM-V, Somatic Symptom Disorder atau gangguan gejala somatis (sebelumnya disebut somatoform disorder atau gangguan somatoform) adalah kondisi dimana seseorang merasakan kecemasan ekstrem yang berhubungan dengan sensasi fisik. Individu yang memiliki SSD mengalami beberapa gejala somatis yang membuat dirinya merasa sangat cemas dan menyebabkan terganggunya kehidupan sehari-hari. Gejala somatis tersebut dapat berupa sensasi fisik seperti rasa sakit di area tertentu pada tubuh atau gejala yang lebih umum seperti kelelahanmeskipun hal tersebut bisa saja merupakan sensasi tubuh biasa atau akibat dari suatu kondisi medis. SSD bukanlah mengenai sensasi fisik yang ditimbulkan, tetapi mereka yang memiliki gangguan ini memiliki respon yang berlebihan mengenai sensasi fisik tersebut, baik secara pikiran, perasaan maupun perilaku.

Barsky (2016) juga menambahkan, dalam SSD, apa yang menjadi sumber dari gejala somatis tidak lebih diutamakan dari reaksi individu itu sendiri terhadap gejala yang dialami. SSD lebih berfokus pada tindakan yang mengganggu, mengacaukan, menyebabkan stres berlebihan, serta kesulitan individu untuk menghadapi gejala somatis yang dialami, dan/atau mencoba meminimalisir dampak gejala secara tidak benar, mengimbangi dan membiarkan gejalanya, yang kemudian menjadi manifestasi penting dari gejala somatis yang dialami. Untuk mencapai kriteria SSD, individu harus memiliki gejala-gejala somatis yang menyebabkan kecemasan berlebihan secara terus-menerus selama setidaknya 6 bulan, dan menyebabkan terganggunya pikiran, perasaan/emosi, dan perilaku.

Mereka dengan gangguan gejala somatis menghabiskan banyak waktu dan energi dalam menghadapi tingginya kecemasan mengenai kesehatan dirinya. Mereka menganggap sensasi fisik dalam tubuh mereka berbahaya dan mengancam, dan biasanya berpikir hal-hal yang buruk mengenai kesehatan mereka meskipun tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang menjalani operasi bedah yang tidak memiliki komplikasi apa-apa, tetapi kekhawatiran mereka terhadap sensasi fisik pasca operasi dapat menyebabkan diri mereka cacat (Psychology Today, 2018). Kekhawatiran mengenai kesehatan akan menjadi ekstrem pada seseorang yang memiliki SSD dan hal tersebut akan menjadi fokus pada identitas seseorang dan mendominasi hubungan mereka dengan yang lainnya. Mereka juga seringkali mengakses perawatan medis dengan persentase yang tinggi, meskipun tingkat perawatan medis yang mereka lakukan jarang membuat kecemasan mereka terhadap kesehatan menjadi lebih baik.

Masih dikutip dari Psychology Today (2018), diperkirakan terdapat 5 – 7 persen orang yang memiliki kondisi ini dan perempuan cenderung lebih merasakan gejala-gejala yang berkaitan dengan fisik dibanding laki-lakimaka dari itu, penyebaran SSD diperkirakan lebih tinggi pada perempuan.

Gangguan Kecemasan Penyakit (Illness Anxiety Disorder)

Illness anxiety disorder menurut DSM-5 ditandai oleh ketakutan berlebihan bahwa seseorang memiliki atau terkena penyakit serius pada diri sendiri. Selain itu, mereka memiliki kecemasan akan kesehatan yang tinggi, serta gejala-gejala yang dapat dilihat dari perilaku yang ditampakkancontohnya memeriksakan tubuh secara berulang-ulang (Newby dkk., 2017). Individu yang memiliki Illness anxiety disorder dapat diklasifikasikan menjadi dua; seorang yang mencari perawatan (mereka yang menggunakan perawatan kesehatan secara berlebihan), atau seorang yang menghindari perawatan itu sendiri (mereka yang jarang sekali melakukan perawatan kesehatan atau terus menghindari doktor). Jika gangguan ini dikaitkan dengan SSD, menurut Newby dkk. (2017), seseorang yang memiliki kecemasan berlebih pada kesehatan dapat dikatakan memiliki gejala dari SSD, namun tidak serta-merta didiagnosis memiliki SSD.

Individu dengan gangguan kecemasan penyakit memiliki tingkat kecemasan yang tinggi mengenai kesehatan mereka dan mudah khawatir bahwa mereka terserang penyakit. Contohnya, seseorang yang kecemasannya segera muncul ketika mereka mendengar bahwa orang lain jatuh sakit atau ketika mereka membaca berita tentang suatu penyakit (Psychology Today, 2018).

Mereka juga mudah khawatir tentang status kesehatannya dan melakukan perilaku berlebihan yang berhubungan dengan kesehatan mereka, seperti mengecek tubuh mereka secara berulang untuk mengetahui apakah mereka mendapatkan pertanda suatu penyakit. Beberapa orang dengan kondisi ini akan menghindari situasi yang mereka takutkan akan menyebabkan diri mereka jatuh sakit, seperti bertemu dengan dokter, mengunjungi fasilitas kesehatan, atau menjenguk sanak saudara yang sedang sakit.

Penyebab dari gangguan kecemasan penyakit hingga saat ini tidak diketahui. Umumnya diperkirakan sebagai kondisi kronis yang dimulai sejak memasuki tahap dewasa awal dan pertengahan. Kondisi stres yang besar dalam hidup dapat mengawali perkembangan gejalanya dalam beberapa kasus. Sebagai tambahan, riwayat kekerasan masa kecil atau penyakit parah masa kanak-kanak dapat menjadi faktor resiko yang kemudian akan berkembang menjadi gangguan kecemasan penyakit tersebut.

Gangguan Konversi (Conversion Disorder)

Gangguan Konversi menurut DSM-V ditandai dengan adanya gejala mengenai hilangnya fungsi suatu organ tubuh. Yang membedakan gangguan ini dengan gangguan gejala somatis (SSD) bahwa pada SSDfokusnya terdapat pada rasa stres yang disebabkan oleh gejala tertentu. Hal yang paling pokok pada gangguan konversi adalah adanya ketidakcocokan antara gejala yang dialami individu dengan kondisi neurologis atau medis yang selama ini diketahui. Menurut Ballmaier & Schimdt (2005), faktor-faktor psikologis seperti konflik maupun stres, dinilai memiliki hubungan dengan gangguan ini.

Contoh umum dari gejala yang dialami individu yang memiliki gangguan konversi meliputi kebutaan, kelumpuhan, distonia, kejang nonepileptik psikogenik (PNES), anestesi, kesulitan menelan, tik motorik, kesulitan berjalan, halusinasi, dan demensia (Marshall & Bienenfeld, 2013). Menurut Jabeen, dkk. (2015), seorang pengidap gangguan konversi tidak berpura-pura mengenai tanda dan gejala-gejala yang dialami. Meskipun terdapat kurangnya diagnosis yang pasti, rasa stres yang dialami terasa sangat nyata dan gejala-gejala fisik yang dialami oleh pengidap gangguan konversi tidak dapat mereka kontrol secara sadar.

Gangguan konversi ada banyak presentasi dan gejalanya. Gejala motorik meliputi rasa lemah atau kelumpuhan, gerakan abnormal seperti tremor, dan kesulitan berjalan. Terkadang, pengidap gangguan konversi mengalami gejala sensorik pula, seperti sensasi dari kulit yang berubah, berkurang, atau tidak ada sama sekali. Gangguan konversi juga dapat berupa kejang “psikogenik” atau “non-epilepsi”, seperti adanya anggota badan yang berguncang serta kehilangan kesadarannamun tanpa adanya aktivitas elektris yang terjadi di otak selama kejang itu berlangsung. Gejala umum lainnya meliputi rangkaian episode dari ketiadaan respon yang menyerupai pingsan atau koma, volume suara yang berkurang atau hilang, perubahan pada artikulasi ketika berbicara, dan sensasi adanya sesuatu yang mengganjal di tenggorokan, serta penglihatan ganda (Psychology Today, 2018).

Faktor Psikologis yang Memengaruhi Kondisi Medis Lainnya (Psychological Factors Affecting Other Medical Conditions)

Hal yang paling esensial dari faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya menurut DSM-V adalah terdapatnya satu atau lebih faktor psikologis ataupun tingkah laku yang signifikan dan memengaruhi kondisi medis sehingga terjadi peningkatan resiko dari rasa sakit, kecacatan, dan kematian pada diri seseorang. Faktor-faktor tersebut dapat menjadikan kondisi medis lebih buruk dengan cara memengaruhi kemajuan penyembuhan dan pengobatan, serta dengan membentuk faktor resiko kesehatan tambahan. Selain itu, faktor-faktor psikologis ini dapat memengaruhi penyakit yang dimiliki dan menyebabkan gejalanya semakin memburuk atau menyebabkan perlunya perhatian medis.

Contoh-contoh klinis umum termasuk kecemasan, memperparah kondisi asma, pasien diabetes yang memanipulasi insulin sehingga berat badan terlihat menurun, seorang perempuan yang mengabaikan benjolan di payudara, dan lain-lain (Leigh, 2015). DSM-V menyatakan bahwa diagnosis dari faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya haruslah dikhususkan untuk situasi dimana faktor psikologis dalam kondisi medis memiliki akibat yang terbukti. Selain itu, apabila terdapat perkembangan pada gejala-gejala abnormal psikologis maupun tingkah laku sebagai hasil dari kondisi medis, seharusnya didiagnosis sebagai gangguan penyesuaian (adjustment disorder).

Menurut DSM-V, individu yang memiliki gangguan ini dengan level ringan akan meningkatkan resiko medis, seperti seseorang yang tidak konsisten melakukan pengobatan antihipertensi. Jika levelnya sedang, mereka memperburuk kondisi medis yang dialami, contohnya melebih-lebihkan asma yang kambuh. Individu dengan level parah mengakibatkan dirinya harus melakukan rawat inap di rumah sakit, ataupun segera dilarikan ke UGD. Sedangkan individu dengan level ekstrem mengakibatkan tingginya resiko pada keselamatan dirinya, contohnya seperti mengabaikan gejala serangan jantung.

Gangguan Buatan (Factitious Disorder)

Menurut DSM-V, hal terpenting dari factitious disorder adalah pemalsuan dari tanda-tanda medis ataupun psikologis serta gejala pada diri seseorang atau orang lain yang berhubungan dengan tipuan yang terlihat atau dapat diidentifikasi. Gangguan buatan, yang sebelumnya disebut munchausen syndrome, adalah kondisi dimana seseorang memperdaya orang lain dengan tampak sakit, cacat, atau terluka dengan berpura-pura, sakit secara sengaja, ataupun menyakiti diri sendiri (self-injury). Sedangkan gangguan buatan yang dipaksakan pada orang lain adalah ketika seseorang secara salah menganggap orang lain sebagai orang yang berpenyakit, cacat, atau terluka. Mereka menyadari muslihat yang mereka lakukan, namun mereka tidak melihat dirinya sendiri memiliki masalah terhadap hal tersebut.

Dikutip dari Psychology Today (2018), mereka yang memiliki gangguan buatan dapat berbohong atau memalsukan gejala penyakit, melukai diri mereka untuk menimbulkan gejala, memalsukan catatan medis, atau mengubah tes (seperti mengkontaminasi sampel urin dengan darah) sehingga diri mereka atau orang lain dapat terlihat sakit. Meskipun orang dengan gangguan buatan mungkin dapat memiliki kondisi medis, mereka bisa jadi melebih-lebihkan atau secara sadar memperparah gejala penyakit agar orang lain melihat mereka (atau orang lain) memiliki kondisi atau gangguan yang lebih parah daripada yang sebenarnya. Mereka biasanya mencari pengobatan medis secara berlebihan pada beberapa rumah sakit atau klinik dan secara antusias menyetujui maupun meminta prosedur medis.

Gangguan buatan dianggap sebagai gangguan mental karena diasosiasikan dengan kondisi stres secara psikologis yang parah. Individu dengan gangguan buatan memiliki potensi untuk menyebabkan bahaya yang besar terhadap dirinya dan orang lain sebagai hasil dari muslihat mereka. Prevalensi dari gangguan buatan tidak diketahui karena keterkaitan dari tipuan membuat gangguan ini sulit didiagnosis. Diestimasikan terdapat 1 persen dari pasien rumah sakit memenuhi kriteria dari gangguan buatan.

KESIMPULAN. Penting untuk diketahui bahwa gangguan mental lain bisa saja tampak dengan gejala-gejala somatis (contohnya seperti gangguan depresi mayor, atau gangguan panik). Diagnosis gangguan tersebut dapat menjelaskan adanya gejala somatis, atau bisa saja dijumpai bersamaan dengan salah satu dari gejala somatis dan gangguan lainnya yang telah dijelaskan diatas.  Meskipun gejala somatis biasanya diasosiasikan dengan stres psikologis dan psikopatologi, beberapa gejala somatis dan gangguan terkait lainnya dapat timbul secara tiba-tiba, dan penyebabnya sampai sekarang masih belum jelas.

Beberapa faktor juga dapat memiliki peran terhadap gejala somatis dan gangguan terkait yang mencakup faktor genetik dan kerentanan secara biologis (seperti peningkatan sensitivitas terhadap rasa sakit), pengalaman traumatis masa lalu (kekerasan, abuse atau tindakan penyalahgunaan, atau kemiskinan), serta faktor pembelajaran (perhatian yang diterima ketika mengalami sakit), juga norma budaya/sosial yang kurang menghargai atau adanya stigma bahwa penderitaan psikologis tidak lebih parah dari penderitaan fisik. Perbedaan pelayanan kesehatan lintas budaya juga memengaruhi gangguan tersebut, serta pengakuan dan cara mengatasinya. Variasi dari gejala-gejala yang ditampakkan biasanya sebagai hasil interaksi dari berbagai faktor dalam konteks budaya yang memengaruhi bagaimana individu mengenali dan mengkategorikan sensasi fisik yang dirasakan, mengartikan penyakit mereka, serta pencarian pengobatan terhadap diri mereka.

Gangguan gejala somatis (SSD) secara klinis telah memiliki metode yang berguna dalam mengkategorikan individu yang mungkin telah terdiagnosis gangguan somatis sebelumnya. Gangguan kecemasan penyakit (illness anxiety disorder) dapat dimasukkan dalam kategori diagnosis ini maupun sebagai gangguan kecemasan. Karena kuatnya fokus terhadap kekhawatiran somatis dan karena gangguan kecemasan penyakit lebih sering dijumpai pada situasi medis, agar lebih mudah, gangguan ini dimasukkan dalam gejala somatis dan gangguan terkait. Pada gangguan konversi, yang paling jelas adalah adanya gejala neurologis yang dialami, yang setelah dilakukan pengecekan neurologis ternyata tidak ditemukan gejala yang berkaitan dengan gangguan neurologis. Pada faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lain, ciri khas utamanya adalah adanya satu atau lebih faktor psikologis atau perilaku yang signifikan yang memengaruhi kondisi medis dengan cara meningkatkan resiko penderitaan, kematian, atau kelumpuhan. Seperti gejala somatis dan gangguan terkait lainnya, gangguan buatan (factitious disorder) terwujud dalam masalah yang berkaitan dengan persepsi terhadap penyakit dan identitas pada dirinya ataupun orang lain secara terus menerus.

 

REFERENSI:

Ali, S., Jabeen, S., Pate, R. J., Shahid, M., Chinala, S., Nathani, M., & Shah, R. (2015). Conversion Disorder—Mind versus Body: A Review. Innovations in clinical neuroscience, 12(5-6), 27.

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Ballmaier M, Schmidt R. Conversion disorder revisited. May 23, 2005. http://www.functionalneurology.com/materiale_cic/99_XX_3/892_convers ion/index.html. Access date: January 7, 2019.

Barsky, A. J. (2016). Assessing the New DSM-5 Diagnosis of Somatic Symptom Disorder. Psychosomatic Medicine, 78(1), 2–4. doi:10.1097/psy.0000000000000287.

Leigh, Hoyle. (2015). Somatic Symptom and Related Disorders: Handbook of Consultation-Liaison Psychiatry, Second Edition. 291-301. 10.1007/978-3-319-11005-9_21.

Marshall S, Bienenfeld D. Conversion disorder. Medscape. Drugs and diseases. June 26, 2013. http://emedicine.medscape.com/artic le/287464-overview. Access date: January 7 2019.

Newby, J. M., Hobbs, M. J., Mahoney, A. E. J., Wong, S. (Kelvin), & Andrews, G. (2017). DSM-5 illness anxiety disorder and somatic symptom disorder: Comorbidity, correlates, and overlap with DSM-IV hypochondriasis. Journal of Psychosomatic Research, 101, 31–37.doi:10.1016/j.jpsychores.2017.07.010.

Psychology Today. Conversion Disorder. February 28, 2018. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/conversion-disorder. Access date: January 7, 2019.

Psychology Today. Illness Anxiety Disorder. March 6, 2018. http://www.psychologytoday.com/us/conditions/illness-anxiety-disorder. Access date: January 8, 2019.

Psychology Today. Somatic Symptom Disorder. March 6, 2018. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/somatic-symptom-disorder. Access date: December 26, 2018.

Psychology Today. Factitious Disorder (Munchausen Syndrome).March 6, 2018.https://www.psychologytoday.com/us/conditions/conversion-disorder. Access date: January 7, 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + nineteen =