Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka ‘yang Saling Toleran’

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Foto ilustrasi masyarakat berdampingan walau beragam | photo credited to: instagram.com/p/BbKUOTlgNSC/

 

Seharusnya tidak ada lagi diskriminasi terhadap Bahasa yang diucapkan seseorang, warna kulit maupun Agama.” -Malala Yousafzai (Aktivis Pendidikan India)

1. SMK Islami Tegal ‘ternyata toleran’ menerima rekomendasi Dinas, demi NKRI terkait cadar

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Siswi atau santri putri SMK Attholibiyah Kab.Tegal saat sedang berjalan menggunakan cadar | photo credited to: bbc.com

Salah seorang unsur dari SMK Attholibiyah Kab.Tegal (Jateng) dalam BBC mengatakan tetap mengikuti rekomendasi Pemerintah terkait penggunaan cadar. Hasil musyawarah dengan Disdikbud (30/10/2017) diambil-lah jalan tengah yaitu santri putri tetap diperbolehkan memakai cadar saat perjalanan berangkat atau pulang ke pesantren. Sementara saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas, berdasarkan kesepakatan dengan Dinas mereka harus melepas cadarnya. Namun, saat siswi di sekolah ini diajar oleh guru laki-laki boleh saja mengenakan cadar berdasarkan kesepakatan musyawarah tersebut.

Isu penggunaan cadar dalam suatu sekolah menurut Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Akhmad As’ari, haruslah mengikuti aturan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 bahwa tidak ingin adanya atribut cadar baik di lingkungan SMA dan setingkatnya. Akhmad As’ari juga menegaskan tidak ada perdebatan dan musyawarahnya sangat santai saja.

“Kami musyawarah. Santai-santai saja. Tidak ada perdebatan. Pihak pesantren legowo-legowo saja,” kata Akhmad kepada wartawan.

Sekilas Isi Permendibud No. 45 Tahun 2014 adalah “diaturnya standar seragam sekolah siswi muslim yang bisa diterapkan antara lain, kemeja putih lengan panjang hingga pergelangan tangan, jilbab putih, rok panjang sampai mata kaki serta kaus kaki putih minimal 10 cm di atas mata kaki. Tanpa cadar. Karena itu, pihaknya (Dinas) meminta pihak pesantren untuk mencabut kebijakan yang mewajibkan santri putrinya mengenakan cadar di Sekolah formal karena bertentangan dengan aturan pemerintah,” tulis pihak wartawan BBC (1/11/2017).

 

2. ‘Kesungguhan’ toleransi pemuda lintas agama Maluku terproyeksi dengan baca kitab suci bareng

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Para pemuda lintas agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik berfoto bersama setelah baca kitab bareng | photo credited to: damailahindonesiaku.com

Kemudian menengok wilayah Maluku juga ada sikap toleransi cukup dapat dijadikan inspirasi seperti kata Alman Hudri bahwa kegiatan membaca kitab suci bareng ini tidak lain untuk memupuk kebhinnekaan pada pemuda.

“Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci ini bertujuan selain meningkatkan keimanan para pemuda dan memupuk kebhinekaan dikalangan pemuda tanpa memandang Suku, RAS dan Agama, selain itu juga meningkatkan minat baca pemuda pada kitab suci masing-masing agama,” ujar Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Pemuda, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Alman Hudri saat memberikan sambutan, dikutip oleh wartawan Tribunnews.

Hudri juga menerangkan dengan adanya kegiatan ini dapat dijadikan contoh saat suatu hari raya keagamaan masing-masing, kita dapat menjaga keamanan dan salinglah menghormati katanya.

“Di Ambon kita saling menghormati antar pemeluk agama seperti contoh ketika hari raya umat Islam Idul Fitri, pemeluk agama diluar islam ikut menjaga keamanan sepanjang acara tersebut. Sebaliknya begitu juga ketika hati raya umat nasrani Natal, pemeluk agama diluar nasrani pun ikut menjaga keamanan,” tuturnya dalam Republika.

Dalam berita Damailahindonesiaku bahwa terkumpulnya ratusan warga di Kabupaten Halmamera Utara, Maluku Utara menghadiri acara Gerakan Pemuda Membaca Kita Suci (GPKMS). Acara ini dilaksanakan di Gedung Marahai sebagai bagian dari rangkaian acara Kirab Pemuda 2017.

Pihak Imtak dan Iptek Kementerian Pemuda dan Olahraga Adi Reza Maulana juga mengungkapkan kepada wartawan (31/10/2017) acara ini bertujuan meningkatkan keimanan seluruh pemuda agar menguatnya rasa Kebhinnekaan tanpa lagi memandang suku, ras, maupun agama yang berbeda.

“Para pemuda yang mengikuti kegiatan yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini berasal dari tiga agama yaitu Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan,” katanya.

Acara yang bertemakan “Untuk Persatuan Indonesia” ini dilakukan melalui saling membaca kita suci masing-masing secara serentak. Seluruh peserta juga membawa kitab Agamanya sendiri, serta pakaiannya saat beribadah juga. Kronologis acara toleransi ini dimulai dengan membaca Ayat Suci secara bergantian, setiap Agama dipimpin perwakilan yang telah dipilih, lalu diikuti pesertanya.

Terus saat satu kelompok lain membacanya, kelompok beda agama, peserta lainnya mendengarkan dan menghargainya dengan penuh toleransi.

 

3. Pemda Asmat lakukan buka bareng ‘untuk pertahankan toleransi’

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Beberapa unsur Pemda Asmat bersama Polisi lakukan buka bareng dengan Warga Asmat ‘untuk pertahankan toleransi’ | photo credited to: kabarpapua.co

Ada lagi hal yang dapat dijadikan contoh agar toleransi dapat dipertahankan yaitu langkah kecil seperti inisiasi Pemerintah Daerah Asmat mengadakan kegiatan berbuka bareng di Pasar Induk Agats (10/6/2017). Kegiatan ini tidak lain sebagai bentuk toleransi dan penghormatan kepada pihak Muslim yang sedang menjalankan Ibadah puasanya. Acara buka puasa dimulai bersama seluruh umat beragama di Kota Agats, ibukota Kabupaten Asmat.

Kegiatan ini Pemerintah Asmat melalui pemberian 5000 kupon gratis ke masyarakat, yang dapat ditukarkan makanan dan makanan. Agar kiranya kata beliau bisa dimanfaatkan untuk buka puasa tiba.

Beliau juga punya harapan untuk semua masyarakat haruslah rukun dan menghargai satu sama lain, serta menegaskan kegiatan buka bersama ini bisa terlaksana karena adanya izin Tuhan kita, bukan karena kita sendiri, ungkap Bupati Elisa Kambu.

“Acara hari ini atas izin Tuhan bukan karena kita. Tuhan mau kita harus hidup rukun, menghormati satu dengan lain…. mari kita tinggalkan kepentingan kita, kita saling menghormati satu dengan lainnya….Mari kita ciptakan situasi yang aman kondusif. Kita berharap dengan bulan ini kita bisa membangun masyarakat yang maju, sejahtera dan martabat,” kata Elisa Kambu dalam Independen.

 

4. Beragamnya 273 suku adat di Papua, ‘aman sentosa’ saat bareng merayakan hari lahir Pancasila

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Sekda Papua, T.E.A. Hery Dosinaen sebagai Inspektur upacara Hari Lahir Pancasila (1/6/2017) di Lapangan Kantor Gubernur | photo credited to: kabarpapua.co

Lalu di Indonesia pada saat hari lahirnya Pancasila sempat didukung oleh 273 suku adat yang berbeda oleh warga Papua. Hal ini dinyatakan Hery Dosinaen (1/6/2017) mereka hidup dengan aman di sini.

“Lima wilayah adat dengan 273 suku di Papua, ditambah dengan suku-suku lain dari Sabang sampai Merauke hidup dengan aman di Papua,” terang Sekretaris Daerah Papua, Hery Dosinaen dalam Independen sesaat setelah menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila (1/6/2017) di Lapangan Upacara Kantor Gubernur di Dok II, Kota Jayapura, Papua.

“Tak ada gesekan horizontal maupun vertikal atas nama agama, suku atau ras. Ini yang menjadi contoh bagi Negara Indonesia secara keseluruhan,” tambahnya lagi.

“Dalam kepimpinan Gubernur Lukas Enembe Papua tetap damai” tutup Hery yang sebagai Sekretaris Daerah mewakilkan Gubernernya tersebut.

 

5. Duta damai cyber RI asal Kristen, Khonghucu, asal Muslim, juga memiliki cadar, ‘saling toleran, saling bersatu’ tebar kedamaian di dunia maya

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'
Nabiya (bercadar) seorang Duta Damai Dunia Maya BNPT wilayah Mataram saat Pelatihan dan sharing discussion dengan Ambassador Duta Damai Kikan Namara | photo credited to: instagram.com/p/Batr4MnHDz5

Tidak kalah juga kegiatan yang mungkin menjadi solusi bagi Indonesia selama ini, salah satuya seperti dibentuk Pasukan Cyber Kedamaian atau disebut juga Duta Damai Dunia Maya yang dibentuk oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebagai bagian dari Program Pusat Media Damai.

Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir dalam Antaranews memberikan sambutan pada acara “Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2017 Regional Mataram” bahwa yang dimaksud Duta Damai adalah sekumpulan orang atau para Duta yang akan melakukan kontra propaganda melalui internet dalam menjatuhkan konten-konten radikalisme agar lebih banyak konten positif dan damai di Internet katanya.

“Di sinilah para duta ini berperan melakukan kontra narasi bagaimana menangkal hoax, propaganda radikal di dunia maya,” tegasnya sebagai Deputi Bidang Penceaghan, Perlindungan, dan Deradikalisisi BNPT di Mataram, NTB (27/10/2017).

Abdul Rahman Kadir yang juga berpangalaman sebagai Tentara Nasional Indonesia mengungkapkan pemuda janganlah diam saja jika melihat dunia maya dipenuhi konten ideologi radikalisme dan terorisme, haruslah melawan dengan cara kontra narasi baik tulisan damai, video maupun produk meme.

“Generasi muda tidak boleh diam dan harus bangkit membersihkan dunia maya dari radikalisme dan terorisme. Ini penting karena sasaran radikalisme dan terorisme adalah anak muda, sehingga yang bisa melawan pun juga harus anak muda, baik melalui tulisan, video, meme, dan lain-lain,” kata Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir (26/10/2017) dikutip oleh wartawan Tribunnews.

Diskusi bersama juga ada dalam acara tersebut bersama Ambassador Duta Damai BNPT Kikan Namara yang juga seorang mantan Vokalis Band Cokelat sering menyanyikan lagu beraroma kebangsaan dan nasionalisme.

Dalam pelatihan & pelantikan duta damai tersebut dihasilkan Tim yang akan menerbitkan berkala konten kedamaian maupun kontra propaganda, diantaranya yaitu www.mandalika.dutadamai.id, www.berugak.dutadamai.id, www.mayung.dutadamai.id, www.sasambo.dutadamai.id, www.pepadu.dutadamai.id.

Duta Damai Dunia Maya BNPT dari Tim Mataram ternyata juga ada Muslimah bercadar, namun diterima dengan baik oleh komunitas dan teman-temannya yang akhirnya berpikir positif memandangnya.

Nabiya (nampak di tengah pada foto di atas) sapaan akrabnya sebagai bagian dari Tim Duta Damai bernama Berugak satu-satunya perempuan yang memakai cadar saat dilihat dalam pertemuan pelatihan & pelantikan Duta Damai Dunia Maya BNPT 2017 Regional Mataram tersebut. Dalam akun resmi Tim Berugak dalam status mereka menegaskan “please don’t judge book by the cover (terj. tolong jangan nilai buku dari sampulnya)” yang secara tidak langsung memberi pesan jangan menilai seseorang dari penampilannya.

Juga di Tim Sarantak Duta Damai Dunia Maya BNPT Banjarmasin ada orang Kristen yang terlihat berupaya menebarkan kedamaian terkait pengkafiran pancasila, serta mereka beragama Islam, Kristen, Khonghucu juga pernah menerbitkan sebuah konten video yang secara tidak langsung memaparkan bahwa toleransi itu mendamaikan dalam situasi beribadah. Simak video mereka:

video credited to: youtube.com/watch?v=qx2IXNYc7dY

“Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita harus bisa mengembangkan nilai-nilai pancasila dan memadukannya dengan agama yang ada di Indonesia…. untuk mewujudukan Negara Indonesia yang aman, makmur, dan nyaman bagi setiap orang yang berada di dalamnya, serta selalu rukun antar umat beragama dengan cara saling Toleransi, menghormati dan menghargai akan keberagaman Indonesia.” Tutup Tim Duta Damai Dunia Maya BNPT Sarantak dalam akhir videonya.

Bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan Negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.” -Presiden Indonesia Ir. Soekarno

 

Artikel ini dipersembahkan dalam rangka FESTIVAL MEDIA 2017

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) & Independen.id | #FesmedAJIIndependencompetition

Zaman Now: Mungkin Ini 5 Kegiatan Bhinneka 'yang Saling Toleran'


Advertisement


Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *